Senin, 25 Juli 2011 0 comments

UNSHEAKABLE GENERATIONS

diambil dari buku Mentoring & Pemuridan 
oleh : Pdt Ir. Herdy N. Hutabarat MA

Ada satu kalimat bijak mengatakan “Jika Anda menginginkan kehidupan yang bahagia seumur hidup, maka bantulah generasi yang berikut”.  Mari kita simak untuk kasus berikut.
Ada dua contoh kasus :
  1. Seorang ayah yang sukses, kaya, terkenal, dan punya beberapa orang anak, dan anak-anaknya juga menerima warisan kekayaan ayahnya. Namun ketika menjelang tua dan sakit-sakitan, ayah tersebut tidak mendapat kasih sayang atau perhatian dari anak-anaknya – seperti pepatah mengatakan “habis manis sepah dibuang”. Sang ayah meninggal dalam kesedihan.
  2. Cerita lain adalah ayah yang kaya dan sukses karena bisnis nya sangat berhasil dalam kepemimpinannya, selama hidupnya sang ayah memimpin semua perusahaannya dengan baik sekali. Namun sayang sekali ketika sang ayah semakin tua dan tidak mampu memimpin bisnis nya lagi, ternyata sang anak belum siap untuk mengambil alih kepemimpinan. Sang ayah belum percaya kepada staffnya yang lain, jadi akhirnya terpaksa bisnis tersebut tetap diserahkan kepada anaknya. Namun ketika diberi kepercayaan penuh, tidak lama kemudian perusahaan itu bangkrut karena anaknya gagal menjalankan perusahaan yang telah dirintis ayahnya selama 25 tahun lebih.
Dari kedua kisah tersebut ternyata kesuksesan dan kekayaan kedua ayah diatas tidak berlanjut sampai kepada generasi berikutnya.  Generasi pertama (sang ayah) kuat, sukses dan tidak tergoyahkan – namun generasi berikut (anak, cucu) gagal dan tergoyahkan bahkan bubar. Mari kita mulai memikirkan dan menyiapkan agar tidak hanya generasi kita sekarang ini yang kuat dan diberkati namun generasi kita berikut setelah kita tidak ada lagi juga harus kuat, diberkati dan tidak tergoncangkan.
Sesungguhnya, jika kita mau jujur, setiap orang memerlukan “father” yaitu bapak rohani atau mentor dalam hidupnya (baca Bab 12 “Semua orang memerlukan bimbingan”). Bahkan dalam organisasi profit atau non profit, usaha bisnis, yayasan atau suatu kegerakan rohani (movement) sangat memerlukan mentor.
Saya masih ingat sekitar tahun 1980-1981, ada kegerakan Roh Allah yang bekerja secara luar biasa di Bandung melalui anak-anak muda (mahasiswa ITB, Unpad, Unpar dll), orang-orang dipenuhi Roh Kudus, mendapat penglihatan, berkata-kata nubuat, banyak orang-orang yang mengalami kesembuhan dan ratusan orang diselamatkan dalam kurun waktu yang sangat singkat, kita belum pernah mengalami saat-saat fenomenal seperti itu.
Saya salah satu yang ikut terlibat langsung dan mendukung kegerakan Tuhan pada waktu itu. Karunia-karunia Roh Kudus bekerja dengan dahsyat dimana kami semua belum pernah mengalami nya. Pada saat itu pengalaman kami secara rohani masih sedikit, usia kami juga pada waktu itu masih muda (19 – 26 tahun), rata-rata masih siswa dan mahasiswa semua. Semua kami yang dilawat Tuhan dalam kegerakan tersebut sangat bersukacita dan bernyala-nyala roh kami namun sekaligus kadang-kadang terkejut (sebagian juga bingung) dengan bentuk lawatan Tuhan yang masih baru sama sekali itu. Bayangkan, ketika selesai doa berjam-jam dalam hadirat Tuhan ada kejadian khusus, dimana beberapa diantara kami pada saat itu berbahasa roh (berbahasa lidah) sampai berhari-hari tidak berhenti, di rumah terus juga berbahasa roh, di restaurant terus juga, dikampus begitu juga, sampai-sampai mereka harus menutup mulut dengan sapu tangan agar tidak kelihatan aneh.
Syukur pada Tuhan, Ia menyiapkan seorang hamba Tuhan yang senior sejak awal kegerakan Roh Kudus itu membimbing dan mengarahkan kami ditengah-tengah keluguan kami, sehingga akhirnya movement itu berjalan dengan baik dan melahirkan sebuah synode atau organisasi gereja yang terus bertumbuh dan berkembang pesat sampai sekarang. Itulah peristiwa lahirnya GKKD (Gereja Kristen Kemah Daud) dan hamba Tuhan yang berperan sebagai mentor kami pada waktu itu adalah Bapak Pdt H. Simamora (pada saat itu beliau menggembalakan sebuah gereja yang sudah lama bertumbuh dan usianya saat itu sekitar 51 tahun).
Apa yang terjadi jika sebuah movement besar tersebut berjalan tanpa seorang mentor atau penasihat rohani? Bisa terjadi akan lahir suatu aliran yang ekstrim, tidak Alkitabiah bahkan bisa mengarah kepada aliran sesat. Saat ini cukup banyak bidat atau aliran sesat yang berbau agama Kristen, mungkin saja pada awalnya kegerakan itu bertumbuh secara murni dan masih netral, namun karena tidak ada yang mengarahkan, tidak ada mentor yang memberi nasihat, maka pelan-pelan terjadilah penyimpangan-penyimpangan yang tidak Alkitabiah dan tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Untuk menjamin lahirnya generasi berikut yang tidak tergoncangkan kita perlu pengarahan dari seorang mentor dan kitapun perlu menjadi mentor bagi orang lain yang masih muda usia ataupun pengalaman. Ibarat dalam lomba lari estafet -- pelari pertama berlari duluan dan kemudian menyerahkan tongkat estafet kepada pelari berikut pada waktu yang tepat agar terjadi kesinambungan satu dengan yang lain.


Berikut adalah kisah nyata tentang “Unshakeable Generations” melalui pelayanan seorang pria yang cinta Tuhan dan cinta jiwa-jiwa. Dawson Trotman, pendiri Para Navigator atau dikenal dengan The Navigators (pelayanan pemuridan) yang mulai merintis pelayanannya ditahun 1933. Pelayanan Navigator sangat fokus dengan pelayanan dalam bentuk bimbingan secara personal atau pribadi (pria terhadap pria dan wanita terhadap wanita), menekankan pentingnya kehidupan yang dibangun dan berakar dalam Firman Tuhan dan bagaimana memenangkan jiwa baru serta menolong orang tersebut melalui proses pemuridan, pelatihan dan mentoring sehingga menjadi murid Kristus yang pada suatu saat nanti mereka juga akan memuridkan orang lain. Ia memulai bahan-bahan pengajaran Alkitabnya dan meneruskannya melalui masa-masa proses pembentukan, diawali dari niat untuk memuridkan para anggota militer hingga kemudian hari berkembang untuk menginjili para mahasiswa dan kaum awam.

Adapun yang menjadi perhatian bagi Trotman dan pelayanan yang didirikannya yang masih terus eksis sampai hari ini ialah pemuridan orang percaya -- untuk memberi landasan bagi orang-orang Kristen dalam hal disiplin rohani, dalam doa, penyembahan, pemahaman Alkitab, dan ibadah. Ia sangat mencintai Firman Tuhan serta menghafalkannya setiap hari dan menerapkannya.
Orang pertama yang dibawa Trotman kepada Kristus melalui penginjilan pribadi adalah Less Spencer, seorang pelaut. Peristiwa itu menjadi awal mula pelayanan nya. Dinamakan the Navigators adalah karena keberadaan awalnya berhubungan dengan dunia kelautan. Spencer mengarahkan orang lain kepada Kristus yang kemudian dilanjutkan dengan mengarahkan orang lain lagi kepada keselamatan. Pelayanan pemuridan dari The Navigators pun berkembang terus untuk memenangkan dan memuridkan para pria maupun wanita bagi Kristus dan menjangkau suku-suku Bangsa ke seluruh penjuru dunia hingga hari ini.
Trotman meninggal dunia pada usia 50 tahun yaitu ketika ia sedang berusaha untuk menolong seorang yang hampir tenggelam di sebuah danau di bagian Utara New York, dan orang yang ditolongnya itu akhirnya selamat. Sepanjang hidupnya bahkan sampai akhir hidupnya Trotman lebih peduli akan orang lain daripada dirinya sendiri.  Penginjil Billy Graham yang memimpin upacara pemakaman Dawson Trotman pada tahun 1956 berkata : "Saya kira Dawson Trotman telah menyentuh begitu banyak kehidupan orang dengan pendekatan pribadi-pribadi dan membawa mereka mengenal Kristus melebihi dari siapa pun yang pernah saya kenal".
Melalui kehidupan seorang Dawson Trotman sebagai pendiri The Navigators, gereja dan umat Tuhan telah diperkaya dengan prinsip-prinsip yang sangat penting dari pelayanan mereka yaitu : mempertahankan disiplin dasar dari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus dengan berpusatkan pada Kristus, mencintai Firman Tuhan, pentingnya follow up pribadi lepas pribadi, latihan pemuridan satu persatu (one-on-one discipleship training) dan prinsip pelipat gandaan murid-murid Kristus dan para pengerja dan pelatih rohani. Pengaruh The Navigators telah berkembang ke seluruh dunia dengan tidak kurang dari 3.600 staf yang mewakili 60 bangsa dan bekerja di 101 negara. Pengalaman Trotman yang sangat mengubahkan hidupnya dan hidup banyak orang adalah karena berpusat pada penghafalan,  perenungan serta ketaatan akan firman Tuhan. Ia menjadi seorang yang sangat effektif memuridkan orang lain oleh karena ia sendiri telah terlebih dahulu dimuridkan oleh Tuhan melalui Firman-Nya.
Di Indonesia, sejarah Para Navigator dimulai dengan seorang pria yang mengasihi Tuhan bernama Jim North (dari USA) yang memuridkan beberapa mahasiswa ITB bernama Badu Situmorang dan Hendrik Nadaweo. Badu dan Hendrik memuridkan mahasiswa-mahasiswa lain dengan cara yang cara yang intensif yaitu pelayanan secara pribadi kepribadi, mentoring, belajar Alkitab, berdoa bersama, penginjilan bersama-sama. 
Hal yang sangat penting yang kita bisa pelajari dari kehidupannya sebelum dipanggil Tuhan adalah bahwa  Dawson Trotman telah berhasil membuat dasar pondasi yang kokoh untuk Less Spencer (generasi berikutnya) untuk meneruskan misi yang sama ke generasi yang lahir kemudian.
Jim North yang pertama membawa injil Yesus lewat misi Navigator ke Indonesia dipanggil Bapa pulang ke Sorga bulan Agustus 2010 telah menginvestasikan hidupnya selama bertahun-tahun kepada mahasiswa-mahasiswa. Kemudian Ir Badu Situmorang yang ditunjuk sebagai pemimpin saat itu dengan setia dan tekun memuridkan beberapa mahasiswa yang lain (salah satu muridnya adalah Bapak Ir Alex Mamesah Presiden Direktur Navigator se Asia (1996-2006). Demikian seterusnya proses pemuridan ini berlangsung secara estafet dari generasi ke generasi. Pribadi-pribadi yang dihasilkan bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berakar dalam Firman Tuhan serta memiliki karakter Kristus dalam hidupnya. Mereka bertumbuh menjadi generasi-generasi yang tidak tergoncangkan sebab pondasinya dibangun dengan pengorbanan, penyerahan hidup kepada Tuhan, dengan air mata, waktu, disiplin dan perhatian dalam ketulusan. Dengan kata lain mereka telah menginvestasikan hidupnya kepada orang lain.
Ketika Para Navigator dimulai di Indonesia tahun 1965 sampai tahun 1976 jumlah pengikutnya hanya sekitar 20-30 orang dan kelihatan lambat sekali pertumbuhannya. Bayangkan – dalam waktu 11 tahun hanya sedikit orang saja yang dimenangkan kepada Kristus. Namun dalam kurun waktu tersebut dasar-dasar pondasi telah disiapkan dengan baik dan konsisten. Sampai saat ini orang yang dijangkau dalam program pemuridan diseluruh Indonesia ada ribuan atau puluhan ribu orang. Mereka bukan lah sekedar petobat baru atau bayi-bayi rohani namun mereka adalah murid-murid Kristus yang membawa pengaruh kepada masyarakat sekitarnya yaitu para fulltimer (Staff), pengusaha, professional, mahasiswa dan para pemimpin di gereja yang sungguh-sungguh tergoyahkan dan siap untuk memuridkan orang lain juga.
Didalam pelayanan Navigator di kampus-kampus, biasanya proses memuridkan dan mentoring itu memakan waktu sekitar 4-6 tahun yaitu disesuaikan dengan lamanya waktu seorang mahasiswa menyelesaikan studynya di kampus. Dan ketika mereka selesai studi nya mereka sudah siap untuk terjun kedalam masyarakat untuk menjadi terang dan garam. Mereka bukan lagi sekedar mencari nafkah saja untuk keluarga atau mengembangkan profesi mereka sebagai sarjana namun mereka adalah seorang murid Kristus dan pembuat murid yang tidak tergoncangkan.
Belajar dari pemimpin-pemimpin kegerakan rohani (bapa rohani) pendahulu kita, mereka selalu berpegang kepada janji-janji Allah. Membangun generasi demi generasi bukanlah pekerjaan manusia, itu adalah karya Allah yang tidak terbatas oleh waktu, Dialah yang memegang abad, jaman dan pemerintahan turun temurun. Oleh karena itu setiap pemimpin yang ingin membangun generasi berikutnya yang tidak tergoncangkan, haruslah mendapatkan mandat yang mantap dari Allah dan berpegang akan janji-janji Allah. Itu bukanlah sekedar semangat emosi atau trend sesaat. Itu berbicara tentang DNA (deoxyribo nucleic acid atau benih keturunan pendahulu sebelumnya).
Kenalilah DNA anda dimana Anda saat ini bertumbuh dalam organisasi Anda. Jika Anda menyadari bahwa pendahulu atau pemimpin Anda adalah “rajawali” maka seharusnya Anda juga adalah seorang “rajawali” (dan bukan “ayam”) dimanapun Anda berada dan apapun tantangan yang Anda hadapi saat ini. 
Ada sebuah kisah dimana seekor rajawali kecil (anak rajawali) kesasar dan terjatuh di hutan dan akhirnya ia di jaga dan di beri makan setiap hari oleh induk ayam bersama anak ayam lainnya. Setiap hari anak rajawali ini berperilaku seperti anak ayam lainnya : mengais-ngais sisa makanan, makan cacing tanah, langsung bersembunyi masuk kandang ketika turun hujan dsb, oleh karena ia merasa dirinya adalah ayam dan hidup bersama ayam.
Pada suatu hari dia melihat ada seekor burung rajawali yang gagah perkasa terbang diangkasa, sangat cepat dan badannya pun besar. Dia sangat kagum, lantas dia tanya pada induk ayam : “Itu burung apa?” Induk ayam menjawab itu “Itu rajawali ! Mereka itu jenisnya beda dengan kita, mereka diangkasa, sementara kita ini ayam, tinggal di bawah-bawah ini saja”
Lantas dia pun berfikir “Awak ini apalah, unggas biasa, mana mungkin terbang tinggi seperti rajawali tersebut, awak ini kan keturunan ayam kampung”.
Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadari anak rajawali semakin besar badannya. Setiap hari ia terus mengamati burung rajawali yang terbang tersebut. Tiba-tiba suatu saat dia mulai menyadari bahwa bentuk badan dan bulu serta paruhnya tidak sama dengan anak ayam atau “induknya” yang dikandang. Sebaliknya dia lihat bahwa dia lebih mirip dengan burung rajawali yang terbang itu. Ketika dia benar-benar sadar bahwa ia adalah rajawali dan bukan ayam, maka ia mengambil keputusan untuk meninggalkan lingkungan ayam. Tiba-tiba dia mengepakkan sayapnya dan ia bisa terbang melintasi kandang, pagar bahkan pohon-pohon dan akhirnya ia terbang mengikuti burung rajawali tadi yang ternyata adalah “induk yang sebenarnya”. DNA nya yang sebenarnya adalah DNA rajawali bukan DNA ayam.
Banyak orang yang belum menyadari DNA nya yang sesungguhnya. Mereka masih berperilaku sebagai ayam atau kristen ayam yang terbang rendah (pengalaman biasa-biasa), takut kena hujan (tertekan masalah). Tetapi ketika suatu saat ia sadar, maka ia akan benar-benar berani mengepakkan “sayap imannya”, terbang tinggi melintasi “awan masalah” dan tetap kuat (“tidak tergoncangkan”), itulah Kristen Rajawali yang terbang tinggi !
Oleh karena itu milikilah janji-janji Allah dan berpeganglah teguh, sebab janji-janji Nya tidak akan  tergoncangkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Renungkan dan peganglah baik-baik janji-janji Tuhan dibawah ini, sungguh mengandung berkat yang luar biasa bagi kita dan keturunan kita kelak !
Keturunan orang-orang yang takut akan Tuhan menjadi berkasa di bumi :
Mazmur 112 : 1-2. “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
Allah ingat janji-janji Nya sampai kepada keturunan kita :
Kejadian 17 : 7 Abraham menerima janji Allah dan mempercayainya : “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu
Tuhan memberkati kita dan keturunan kita menjadi bangsa yang besar :
Kejadian 12 : 2-3 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Keturunan kita akan menjadi terkenal (tentunya terkenal karena hal-hal yang positif) :
Yesaya 61: 9 Keturunanmu akan terkenal di antara bangsa-bangsa, dan anak cucumu di tengah-tengah suku-suku bangsa, sehingga semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati TUHAN.
Janji Allah terhadap Abraham sudah dan terus digenapi sampai kepada keturunan yang kesekian, bahkan sampai Abraham sendiri sudah lama meninggalkan dunia ini -- janji Allah itu masih berlaku terus sampai sekarang.
Ketika Anda sudah mendapatkan janji-janji Allah dan menyadari DNA anda, maka Anda perlu melakukan bagian Anda yaitu meneruskannya dan menginvestasikan hidup Anda kepada orang lain. Bagaimana caranya? Anda sebagai pemimpin bersedia menolong orang lain untuk bertumbuh dalam proses pemuridan atau mentoring orang lain.
Semenjak saya dan isteri bergabung dan melayani di IFGF GISI tahun 1991/1992, kami menyadari dan menerima panggilan kami dari Tuhan dan kami ingin bertumbuh terus dan membagikan kehidupan kami kepada orang lain lewat organisasi besar ini. Kami mengenal DNA kami melalui kehidupan, visi-visi, misi dan hati para pemimpin kami yaitu Tim Apostolik yang telah mengimpartasikan kehidupan mereka kepada semua pemimpin dan jemaat melalui pelayanan IFGF GISI yang memiliki misi : “People is Our Mission”. Inilah yang membuat kami tetap bertahan dan setia melayani Tuhan. Kami juga telah menerima janji-janji Tuhan serta mendapat peneguhan lewat kesaksian-kesaksian hidup yang telah diubahkan.
“House of Covenant” (Membangun Jemaat yang Memiliki Ikatan Perjanjian) adalah salah satu visi IFGF GISI yang telah mendarah daging dalam hidup kami, dan kami percaya bahwa lewat pengayoman dan covering dari para pemimpin kami menerima mentoring ilahi dari Tuhan. Lewat ujian-ujian dan tantangan-tantangan, visi ini akan kuat dan semakin hidup dalam diri kami.
Jika kita berbicara “Unshakeable Generations” atau generasi yang tidak tergoncangkan, maka kita harus mengalami goncangan terlebih dahulu. Ketika goncangan terjadi, maka disitulah teruji apakah pondasi rohani (kehidupan, pelayanan, rumah tangga) yang kita bangun selama ini adalah kuat atau tidak? Apakah pondasi yang kita bangun selama ini terdiri dari bahan yang tahan api (emas, perak dan batu permata) atau terbuat dari bahan yang tidak tahan api (kayu, rumput kering dan jerami) sesuai dengan  yang tertulis dalam
1 Korintus 3 :12-14  Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.
Selama kita mau bertahan, mengandalkan Tuhan, taat akan Firman Nya, mau dibentuk dan tunduk pada pemimpin serta mau diajar (bersedia di mentor oleh pemimpin baik secara langsung maupun secara tidak langsung yaitu lewat mentoring ilahi atau pengayoman) maka kita sedang membangun pondasi yang tahan akan goncangan.
Takut akan Tuhan dan ketaatan akan Firman Nya adalah kata-kata kunci yang menjamin bahwa kita tidak hanya menyelamatkan diri kita dan keluarga kita saat ini, namun kita juga menyiapkan dan membuka pintu berkat bagi keturunan-keturunan kita kelak (ketika kita sudah tidak ada lagi nanti didunia ini).
Ulangan 7 : 9-11 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu”
Ada satu artikel menarik tentang suatu penelitian berjudul “Perbedaan Dua Keturunan Max Jukes dan Jonathan Edwards”.  Penelitian tersebut dilakukan oleh sebuah tim sosiolog di New York Amerika Serikat terhadap 2 garis keturunan dari seorang yang bernama Max jukes dan seorang yang bernama Jonathan Edward yang keduanya hidup dalam kurun waktu yang bersamaan di abad ke -18. Max Jukes bukanlah orang yang beriman, dia adalah orang yang tidak punya prinsip hidup dan ia serta isteri tidak percaya akan Tuhan.
Apa pengaruh abadi yang Max jukes dan istrinya tinggalkan bagi keluarganya? Inilah gambaran yang diperoleh dari 1.200 orang keturunan Max Jukes:
· 440 orang menjadikan pesta pora sebagai gaya hidup mereka
· 310 orang menjadi gelandangan dan pengemis
· 190 orang menjadi pelacur
· 130 orang menjadi narapidana
· 100 orang menjadi pecandu minuman keras
· 60 orang mempunyai kebiasaan mencuri
· 55 orang menjadi korban pelecehan seks
· 7 orang menjadi pembunuh
Hasil penyelidikan membuktikan bahwa tidak satupun dari keturunan Jukes memberikan kontribusi berarti bagi masyarkat, sebaliknya keluarga yang terkenal karena keburukannya  ini  secara  kolektif  telah merugikan negara bagian New York sebesar $ 1.2 juta US.
Sementara itu, bagaimana dengan Jonathan Edwards? Jonathan Edwards adalah berasal dari keluarga yang taat. Ia menikah dengan Sarah, sorang wanita yang setia kepada Tuhan. Dan inilah hasil keturunan mereka :
· 300 orang menjadi pendeta, misionaris atau guru besar di bidang teologi
· 120 orang menjadi profesor (guru besar) di bidang akademis
· 110 orang menjadi pengacara
· Lebih dari 60 orang menjadi dokter
· Lebih dari 60 orang menjadi pengarang buku (best seller)
· 30 orang menjadi hakim
· 14 orang menjadi rektor
· 3 orang menjadi anggota Kongres
· 1 orang menjadi wakil presiden Amerika serikat
· Sisanya menjadi pemilik pabrik di Amerika serikat
Kisah nyata diatas membuktikan bahwa Jonathan Edwards membangun pondasi yang benar dan kuat (takut akan Tuhan dan taat kepada Firman Nya) sehingga ia menghasilkan “Unshakeable Generations” atau generasi yang tidak tergoncangkan. Sebuah warisan dari kehidupan orang tua yang “dipindahkan” kepada anak- anaknya.
Sebuah hal yang lebih berharga dari sekedar harta yaitu kehidupan yang Allah telah berikan di dalam hidup orang tua yang akan diwariskan kepada anak- anak supaya anak- anak itu kelak punya pengaruh yang positif untuk mengubahkan generasi dan masyarakatnya menjadi lebih baik.
Sementara itu Max Jukes membangun pondasi yang rapuh dan tidak tahan badai kehidupan (hidup menjauhi Tuhan), sehingga ia menghasilkan “Shakeable Generatiosn” atau generasi yang tergoncangkan.


Dalam mempersiapkan kehidupan dan generasi yang tidak tergoncangkan sebagai pemimpin atau mentor kita perlu memperhatikan hal-hal berikut :
1.      Harus memiliki keyakinan yang kuat akan janji-janji Allah.
Jika keyakinan kita sekedar semangat emosi atau karena mendengar dari apa kata orang atau sekedar meniru apa yang dikerjakan oleh orang lain, maka biasanya keyakinan itu suatu saat akan goyah dan ada kemungkinan beralih kepada ‘keyakinan baru’ atau ‘trend baru’ yang sedang digandrungi oleh banyak orang. Untuk melakukan program pemuridan didalam gereja/ organisasi Anda haruslah berdasarkan keyakinan akan janji-janji Allah, sebab godaan cukup banyak ketika kita merasa jenuh, bosan, terpengaruh melihat hasil orang lain lebih cepat kelihatannya dsb. Jika Anda ingin melahirkan “unshakeable generation”, maka Anda sendiri haruslah menjadi pribadi atau pemimpin yang “unshakeable” terlebih  dahulu.  Carilah Tuhan, minta janji-janji Nya sebagai konfirmasi dan ketika Anda menemukannya, yakinlah, peganglah dan melangkahlah!
2.      Harus punya visi kedepan untuk menyiapkan pondasi atau pertumbuhan generasi berikutnya. Ada anggapan bahwa generasi berikutnya akan otomatis lahir sendiri dengan keyakinan generasi sebelumnya. Biasanya kualitas mereka akan cenderung berkurang mutunya dibandingkan dengan generasi yang disiapkan dengan baik dan sungguh-sungguh. Ingat kisah diawal bab ini yaitu tentang dua ayah yang sukses, kaya, terkenal, namun karena tidak mempersiapkan generasi berikutnya maka generasi berikut tidak sebaik kualitas ayahnya.
Bandingkan dengan Dowsan Trotman yang tangguh namun benar-benar mempersiapkan murid-murid Kristus yaitu yaitu sebagai pemimpin-pemimpin generasi berikut yang tidak tergoyahkan. Sudah 40 tahun lebih Para Navigator ada di Indonesia dan mereka masih tetap tidak tergoyahkan, karena pondasi nya dibangun dengan kuat.
Demikiain juga sudah 30 tahun lebih IFGF GISI lahir dan sampai saat ini bertumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang kuat, walaupun melewati goncangan-goncangan namun tidak tergoncangkan. 
Jadi dalam hidup Pribadi kita, keluarga kita, pelayanan kita, bisnis kita kita perlu menyiapkan pondasi yang kuat agar kita tetap kuat dan tidak mudah goncang.
3.      Perlu kesabaran dalam melakukan proses untuk menolong pertumbuhan orang lain. Godaan yang timbul adalah ingin melihat pertumbuhan dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang sangat singkat sehingga tanpa kita sadari ingin menggantikan proses pemuridan dan mentoring dengan program-program pengganti yang bersifat “short cut” atau “instant” lainnya. Padahal proses pemuridan dan mentoring adalah proses membagikan  kehidupan pemimpin kepada orang lain, bukan sekedar menyuruh orang lain melaksanakan program-program dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang banyak. Mungkin program dapat terlaksana namun biasanya tidak akan bertahan lama dan pribadi-pribadi yang melakukannya juga akan tergoyahkan oleh karena mereka belum mendapat pengarahan, perhatian dan pelatihan yang baik.
Berikut adalah kutipan pesan dari Dr  Jimmy Oentoro dalam sebuah tulisannya (tahun 2010) berjudul “Raise up Unshakeable Generations” sekaligus menjelaskan 3 DNA penting gereja IFGF GISI. Pastikan DNA Anda !
"Tuhan adalah Tuhan atas setiap generasi!" Dan Dia memiliki rencana bagi setiap generasi yang ada. Sebagaimana saat ini generasi pada usia 20 dan 30-an bermunculan sebagai pemimpin baru, mereka adalah generasi yang sangat radikal di zaman ini. Dengan semua yang sedang berlangsung di sekitar kita, IFGF GISI haruslah mampu melihat kehendak Allah bagi generasi ini. Ijinkan saya mengingatkan Anda kembali mengenai 3 DNA penting gereja kita. Yang pertama, kita dilahirkan untuk menjadi Pembuat Sejarah yang menolak menjadi sekedar pribadi atau gembala yang biasa-biasa saja. Ingatlah bahwa visi Tuhan ditentukan dari seberapa besar hati Anda. Kedua, kita telah dipercayakan Mandat Kuasa dari Tuhan dimana kita perlu bekerja mengelola gerejaNya. Gereja, dalam hal ini, tentu saja mengarah pada kumpulan anak-anak Tuhan. Dan ketiga, kita adalah sebuah gereja yang Berorientasi pada Misi. Jika tidak, kita akan menjadi gereja yang terhilang saat Yesus datang! Sadari bahwa apapun yang kita lakukan saat ini, kita sedang disaksikan oleh generasi di bawah kita. Jadi sebagai gembala dan pemimpin gerejaNya, kita harus bergerak maju dan bersiap memasuki siklus kepemimpinan baru dan mengimpartasi DNA kita kepada generasi selanjutnya.
Tuhan telah menempatkan kita di IFGF GISI melalui perjanjian. Dan bahwa melalui perjanjian ini juga, kita akan berjalan beriringan dengan para generasi muda kita. Kita merawat mereka, membawa dan membicarakan hal keilahian ke dalam hidup mereka, dan membimbing mereka untuk memenuhi tujuan-tujuan mereka melalui impartasi visi. Saya juga percaya bahwa setiap generasi memiliki sebuah panggilan. Dan panggilan kita untuk generasi selanjutnya adalah menjadi generasi yang tak tergoyahkan sehingga kita dapat bersama-sama menjadi trendsetter untuk membangun 7 gunung yang telah Tuhan percayakan kepada umatNya di dunia.


1.      Untuk menyiapkan “Unshakeable Generations” atau generasi yang tidak tergoncangkan kita perlu membangun pondasi yang kuat, apakah itu pondasi kehidupan rohani, pondasi keluarga dan juga pondasi pelayanan. Mulailah dari kehidupan kita pribadi. Pastikan pondasi kehidupan Anda dan saya benar-benar kuat.
2.      Mari kita tidak hanya memikirkan generasi saat ini saja (jaman dimana kita masih hidup saat ini). Pelajaran berharga apa yang Anda dapatkan dengan membaca kehidupan dan keturunan dua tokoh Max Jukes dan Jonathan Edwards? ______________________________________
3.      Pelajaran berharga apa yang Anda dapatkan dengan membaca sejarah dua organisasi yang telah diberkati Tuhan lebih dari 30 tahun seperti Para  Navigators dan IFGF GISI?
Amati kehidupan pribadi dan pelayanan Anda saat ini, apakah ada yang perlu dibenahi atau diperbaiki (visi, motivasi, kemurnian hati) sehubungan dengan membangun dasar pondasi yang kuat atau bahan bangunan yang tahan api (1 Korintus 3 : 12-14 yaitu emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami. Jika ada yang perlu diperbaiki, berdoalah sungguh-sungguh dan minta hikmat pada Tuhan atau minta seorang mentor (pemimpin Anda) yang menolong Anda untuk memperbaikinya, dan catat lah komitmen Anda tersebut _________________________________________________________
READ MORE - UNSHEAKABLE GENERATIONS
Rabu, 20 Juli 2011 4 comments

MEMILIKI SIKAP "AKU BISA!"

MEMILIKI SIKAP “AKU BISA!”
Oleh : Herdy N. Hutabarat



Seorang juara sejati tidak mengenal istilah “tidak bisa”-bahkan dalam benak nya tidak ada kata-kata tersebut. Yang ada hanyalah kata “bisa” dan “mari kita coba lagi” !
(Herdy Hutabarat)

Rudy Hartono, pahlawan bulu tangkis Indonesia yang memiliki segudang prestasi dunia, memulai latihannya lewat suatu tempat yang kecil seperti gudang dengan penerangan serta fasilitas lapangan bulu tangkis yang sangat terbatas. Justru lewat kesulitan-kesulitan seperti itulah ia membangun sikap tidak mau menyerah. Karena sudah terbiasa dengan banyak kesulitan dan tantangan, mental Rudy Hartono terbentuk dengan sikap “aku bisa”. Rudy Hartono, maestro bulutangkis Indonesia pernah juara All England 8 kali (1968 – 1976) dan dengan prestasi hebatnya dianggap sebagai Pahlawan Asia (Asia Hero) oleh majalah Time. Gelar Pahlawan Asia hanya diberikan kepada 2 orang Indonesia : Bung Hatta pahlawan pembangunan bangsa, pendiri negara Indonesia dan Rudi Hartono. Konon menurut cerita, ketika final All England melawan Sven Pri dari Denmark di set ke-3 penentuan ia sempat tertinggal 1-14, namun karena spirit “aku bisa” yang dia miliki serta tidak mau menyerah, maka perlahan-lahan satu demi satu dia merebut angka dan mengejar ketinggalannya sampai akhirnya ia berhasil menggulingkan musuhnya tersebut dan menjadi juara dunia All England.
Dalam Bab ini mari kita belajar dari 5 orang yang juga memiliki semangat “aku bisa”. Mereka adalah 4 orang yang berusaha dan berjuang mati-matian demi 1 orang teman nya yang sakit lumpuh agar dapat bertemu dengan Yesus dan menerima kesembuhan. Bacalah Markus 2 : 2 - 11 dikatakan bahwa mereka tidak dapat membawa temannya yang lumpuh tersebut kepada Yesus karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Bayangkan sejenak situasi yang sulit pada saat itu -- mereka sama sekali tidak bisa masuk kedalam rumah itu oleh karena orang penuh sesak dan Yesus sangat sibuk melayani orang-orang didalam rumah itu. Jika mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad atau semangat yang tanggung mungkin akan berkata : “Yah, bagaimanapun juga kita sudah berusaha sampai disini, ternyata jalan masih tertutup. Saya pikir kita pulang saja, mungkin ini kehendak Allah bagi saudara kita ini untuk sementara harus menderita”.
“Lagi pula tidak sopan jika kita mengganggu orang, lebih baik kita pulang saja daripada kita ditertawakan orang-orang nanti”, demikian kata temannya yang lain.
Namun mereka tidaklah seperti orang kebanyakan tadi. Mereka memiliki suatu sikap mental yang berkata “kita pasti bisa !”. Oleh karena itu mereka selalu berusaha mencoba dan tidak pernah menyerah. Setelah berunding kemudian mereka mengatur strategi dan membagi-bagi tugas. Mereka membeli alat pembongkar atap, mencari tangga atau kayu agar mereka bisa naik ke atas atap, membongkar atap (sambil dimarahi orang-orang yang kepalanya kena pecahan atap), mencari tali empat buah dan kemudian berusaha menurunkan tandu pelan-pelan kebawah. Posisi tenda harus tetap datar agar temannya yang sakit yang terbaring diatas tandu tidak sampai terguling jatuh.  Banyak orang yang protes, melarang mereka melanjutkan usahanya, bahkan ada yang mentertawakan mereka, namun ada juga yang kagum akan semangat juang mereka. Dan akhirnya dengan perjuangan berat dan sikap mental “aku bisa”, mereka berhasil ‘mendaratkan’ tenda tersebut persis didekat Yesus berdiri…Luar biasa !
Sekalipun orang parisi dan ahli taurat mengkritik Yesus dengan perkataannya, Ia meneruskan rencana Nya untuk kesembuhan total orang itu. Yesus sangat menghargai iman dan mental baja mereka berlima. Jika mereka berhenti ditengah jalan (dengan berbagai alasan yang masuk akal), pasti akhir kisahnya akan berbeda - orang itu akan pulang dalam keadaan tetap lumpuh!
Apakah Anda ingin melakukan sesuatu sehingga orang-orang berkata “yang begini belum pernah kita lihat”? (ayat 12). Hanya orang-orang yang memiliki semangat “aku bisa” dan yang memiliki iman kepada Yesus yang dapat melakukannya. Para pemenang adalah orang-orang yang memiliki mental”aku bisa”. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sikap positif. Para pemenang biasanya memiliki rasa percaya diri dan tidak mengenal menyerah. Bagi mereka selalu ada peluang dan kesempatan, itu sebabnya mereka selalu mencoba dan mencoba, sekalipun belum berhasil atau gagal sementara.
Biasanya sikap atau mental ‘aku bisa’ ini akan menular dan akan mempengaruhi orang lain yang berada didekatnya. Sebaliknya sikap atau mental ‘aku tidak bisa’ juga akan menular kepada orang lain.
Sikap atau mental ‘aku bisa’ biasanya akan terbentuk melalui kesulitan atau tekanan hidup.
Pesan untuk para orang tua, kata-kata ‘tidak bisa’ sering sekali mematikan semangat dan kreatifitas anak-anak kita. Oleh karena itu jangan lekas-lekas mencegah segala usaha mereka, sebaliknya berikan kesempatan mereka untuk mencoba bahkan berikan juga ruang untuk melakukan kesalahan (namun bukan dengan maksud disengaja tentunya). Pencobaan serta kesulitan sering sekali diijinkan Tuhan agar kita bertumbuh dalam ketekunan. Dengan kata lain “pencobaan dan kesulitan dalam hidup kita akan menghasilkan ketekunan”. Tanpa melalui pencobaan dan kesulitan maka kita tidak memiliki ketekunan”Yakobus 1 : 2 - 3 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Indonesia termasuk 10 negara besar yang paling kaya alamnya, namun tragisnya, Indonesia termasuk 10 negara paling miskin didunia dengan angka pengangguran 10% dan angka kemiskinan 14 % dari populasi 200 juta. Kenyataan lain yang juga membuat bangsa Indonesia memprihatinkan, adalah masih rendahnya pendapatan per kapita manusia. Rata-rata pendapatan per kapita setiap penduduk Indonesia hanya sebesar 3.000 dolar Amerika Serikat/AS (Rp 27 juta) per tahun. Sementara itu dari total 8,12 juta yang menganggur di Indonesia  jumlah sarjana yang menganggur lebih dari 1 juta orang (data 2010). Data lain, selama beberapa tahun, 60% dari lulusan Perguruan Tinggi masih menganggur juga. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneurship. Menurut seorang ahli Thomas W Zimmerer : “Enterpreneurship atau Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari”. Jadi jelaslah untuk mengembangkan spirit entrepreneurship ini kita harus memiliki mental ‘aku bisa’. Masih banyak sekali sarjana yang menganggur di Indonesia yang memiliki paradigma lama yaitu ‘aku bisa berhasil jika aku bekerja di sebuah Perusahaan lewat proses lamaran kerja’ (artinya mereka berkata : ”selain itu aku tidak bisa”. Ini adalah paradigma berfikir yang sangat keliru. Mereka masih berfikir bahwa hanya pegawai yang digaji setiap bulanlah yang dapat bertahan hidup, sehingga itu menutup inovasi mereka untuk mencoba sesuatu yang baru.
Ir Ciputra, adalah salah satu konglomerat Indonesia yang memulai bisnis nya dari nol yang juga adalah sebagai pionir Enterpreneurship di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai orang yang sanggup mengubah “lumpur” menjadi emas” (Taman Impian Ancol Jakarta). Tidak diragukan lagi, ia adalah seorang yang memiliki spirit “aku bisa”!
Mari kita amati sejenak apa ciri-ciri orang yang suka mengatakan “tidak bisa”
·         Ia mudah berhenti mencoba dan berusaha
·         Ia akan berhenti berdoa karena dalam pikirannya sudah mengatakan ‘sudah tidak bisa, jadi buat apa lagi didoakan?’
·         Tanpa disadari, ia akan mengembangkan  “mental - pecundang”. Apabila kemungkinan kesempatan terbuka, maka alam bawah sadarnya sudah mengatakan “nanti toh tidak bisa juga”. Jadi ia menunggu kapan pintu itu tertutup dan akhirnya ketika pintu benar-benar tertutup ia mengatakan “nah betul bukan? Saya sudah katakan dari tadi bahwa kita tidak akan bisa”.
·         Mematikan kreatifitas atau ide –ide yang baru.
·         Tidak akan pernah mencapai potensi maksimumnya.
 Jika kita membiasakan diri melatih dengan mental ‘aku bisa’ dalam tantangan-tantangan yang kecil, maka kita juga akan terbiasa dengan mental ‘aku bisa’ untuk tantangan-tantangan yang lebih besar.

LANGKAH LANGKAH TINDAKAN
1.Mungkin Anda bertanya : “Mengapa orang lain bisa sukses? Bisa untung? Bisa maju? Bisa berkembang” Sementara saya sudah 10 tahun begini terus? Apa yang salah? Apakah ini nasib dan suratan tangan saya?” Bukan ! Itu anggapan yang salah ! Coba amati apakah mungkin Andadulu pernah menyerah dan berkata “aku tidak bisa” berkali-kali padahal kesuksesan Anda tinggal beberapa  langkah lagi? Selalulah berfikir positif dan berkata “aku bisa”!
3. Tantanglah diri Anda, bangkitkan iman Anda ! Tuliskanlah 2 atau 3 keinginan atau impian Anda yang paling besar saat ini dimana doa-doa serta segenap usaha Anda akan di fokuskan untuk hal-hal tersebut: a___________________b__________________c________________d_________________ Percayalah, selama Anda meyakini dengan iman yang teguh, mendoakan sungguh-sungguh serta mengucapkan berulang-ulang bahwa hal itu bisa Anda peroleh, maka Anda akan menerimanya. Jadilah seperti iman Anda, jadilah seperti perkataan Anda ! _______________
4. Terlalu sering orang berhenti mencoba dan menyerah dengan berbagai alasan yang masuk akal misal : 
“Mungkin ini bukan kehendak Allah untuk kita teruskan” atau “Kemampuan kita sudah sampai pada batasnya” atau “Kita tidak layak menerimanya” atau “Orang lain tidak akan mendukung kita” atau “Semua orang  sudah mencoba dan tidak ada yang berhasil, apalagi kita?” Tetapi gantilah semua kata-akata negatif itu dengan sikap sebagai berikut : “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku. Aku pasti bisa ! Aku pasti bisa ! Bersama Yesus aku pasti bisa !” ________________________
READ MORE - MEMILIKI SIKAP "AKU BISA!"
0 comments

Contact Us



Please Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us InfoPlease Fill this page for contact us Info
READ MORE - Contact Us
0 comments

Profile


Name : Herdy N. Hutabarat
Address : Kompleks Merapai No. 25 Duri -Riau, Indonesia 28884
Remarks
Remarks
Remarks
Remarks
READ MORE - Profile
13 comments

Synopsis Buku Mentoring & Pemuridan


“MENTORING & PEMURIDAN”


Pengarang : Pdt. Ir. Herdy N. Hutabarat M.A.

Buku ini unik, berisi pengalaman hidup dan kesaksian dari Penulis selama lebih dari 30 tahun mengikuti panggilan Tuhan sejak ia kuliah dan melayani di kampus ITB dan juga melayani dalam masyarakat sambil bekerja. Buku ini juga berisi tentang kesaksian orang-orang yang dekat dengan penulis yang terpanggil dalam menolong orang lain bertumbuh, baik melalui penerapan mentoring dan pemuridan dan juga penggembalaan dalam gereja. Tidak hanya baik untuk diterapkan dalam pelayanan di gereja, di kampus atau di dunia profesi, pengetahuan dalam buku ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga, usaha bisnis sehari-hari. Buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dan dengan ilustrasi yang menarik untuk mempermudah para pembaca untuk menangkap isinya.

Buku ini terdiri dari 29 pasal yaitu :

Pasal 1. Mentoring, seberapa luas :

Pengertian Mentoring dalam lingkup yang lebih luas adalah : “Proses yang bersifat relasi antara mentor, seorang yang mengetahui atau punya sesuatu (sumber-sumber kebijaksanaan, informasi, pengalaman, keyakinan, pandangan, hubungan, status dll) dengan mentee (anak mentor) dan mentransferkannya kepada mentee tersebut, pada kurun waktu tertentu dan keadaan tertentu, sehingga terjadilah fasilitasi perkembangan atau pemberdayaan”.
Dalam pengertian yang lebih luas fungsi dan jenis mentoring itu bisa mencakup dalam 7 (tujuh) area secara spesifik, dimana orang-orang yang melakukan prosesnya disebut : Discipler (Pembuat murid), Spiritual Guide (Pembimbing Rohani), Coach (Pelatih), Counselor (Konselor), Teacher (Guru), Sponsor dan Model (Role Model atau Panutan). Masing-masing jenis mentoring diatas punya ciri khas tersendiri dalam menolong orang lain untuk bertumbuh mencapai potensi maksimum mereka. Namun bagian mentoring yang banyak dibahas dalam buku ini adalah “discipleship atau pemuridan”.


Pasal 2 : Bagaimana kerjasama mentor dengan mentee 

Secara umum ada dua tipe kegiatan mentoring yakni yang bersifat alami dan yang direncanakan. Yang bersifat alami misalnya melalui persahabatan, minta nasihat atau konseling. Sedangkan mentoring yang direncanakan adalah melalui program-program terstruktur dimana mentor dan mentee melakukan proses mentoring bersama-sama dengan mengadakan kesepakatan atau perjanjian terlebih dahulu, misalnya program pemuridan atau program training dimana mentor dan mentee memilih dan memadukannnya melalui proses-proses yang formal.
Karakteristik untuk menjadi seorang mentor yang baik adalah :
a.Dapat dipercaya.
b.Memiliki semangat yang tinggi dan tidak mudah menyerah
c.Memiliki kemampuan untuk menasihati orang lain
d.Memiliki sikap mental positif (positif thinking)
e.Memiliki ketrampilan atau keahlian yang efektif.
f.Memiliki visi.
Sementara itu, karakteristik untuk menjadi seorang mentee yang baik adalah :
a.Memiliki keinginan belajar untuk meningkatkan kemampuannya.
b.Memiliki komitment dalam hal waktu untuk bertemu dengan mentor.
c.Mau menerima nasehat (umpan balik/ feed back).
d.Ada keterbukaan dan tidak segan-segan untuk meminta pertolongan.
Contoh yang sangat ideal tentang hubungan mentor dan mentee adalah : Anne Sullivan dan Hellen Keler. Sinergi dari keduanya menghasilkan dampak yang luar biasa bagi Hellen Keller sehingga hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.


Pasal 3 : Pemuridan,  seberapa  pentingkah





Mengapa banyak orang (pemimpin) belum melakukan atau belum terlibat dalam Pemuridan?
  1. Belum mengalami langsung (belum pernah dimuridkan).
  2. Tidak mengerti sama sekali tentang teori pemuridan 
  3. Belum memiliki panggilan (perspeksif ilahi).
  4. Anggapan yang keliru bahwa semua orang otomatis bertumbuh
  5. Tidak punya waktu
  6. Hasilnya tidak segera kelihatan
  7. Sudah dicoba dan gagal berkali-kali
  8. Merasa bukan tanggung jawabnya
  9. Menganggap bahwa semua orang percaya otomatis adalah murid Kristus.


Pasal 4 :  Alasan untuk tidak melakukan mentoring

“Waktu berjalan terus dan tidak bisa dihentikan, waktu tidak bisa diulang kembali, waktu adalah uang, uang yang hilang bisa diganti namun waktu yang hilang tidak bisa dibeli. Waktu adalah kehidupan itu sendiri, sering sekali waktu yang seharusnya kita sendiri yang kerjakan tidak bisa kita wakilkan kepada orang lain. Waktu yang terbuang oleh karena tidak kita investasikan untuk menolong orang lain bertumbuh akan menjadi penyesalan yang panjang. Namun waktu yang sangat bernilai oleh karena kita investasikan untuk melakukan mentoring akan membawa kepuasan yang tidak berkesudahan yaitu seumur hidup kita dan sepanjang umur orang-orang pada generasi berikutnya yang pernah kita tolong”. Ada banyak faktor yang membuat orang-orang belum melakukan mentoring antara lain :
a. Tidak mengerti manfaat atau keuntungan sesungguhnya dari mentoring
b. Tidak pernah menerima mentoring sebelumnya
c. Rasa tidak aman (unsecure person).
d. Memikirkan kepentingan diri sendiri (ego).
e. Tidak bersedia membayar harga (membutuhkan kerja keras)
f. Takut gagal
g. Sibuk (tidak punya waktu)

Pasal 5 : Ciri-ciri murid Kristus

Tidak semua orang Kristen atau orang percaya otomatis menjadi murid Kristus. Jika kita amati dalam Alkitab, Tuhan Yesus sendiri mempunyai beberapa kriteria tentang menjadi Murid Kristus, mari kita lihat dengan yang kita sebut “ciri-ciri Murid Kristus”
  • Murid Kristus adalah seorang yang hidup dalam kasih dan saling mengasihi.
  • Murid Kristus adalah seorang yang hidup dan tinggal dalam kebenaran Firman
  • Murid Yesus adalah seseorang yang mengikut Dia tanpa syarat, mau menyangkal diri serta bersedia memikul salib. 
  • Murid Kristus menghasilkan buah-buah yang banyak dalam kehidupannya.
Pasal 6 : Nasehat Yitro kepada Musa (kelompok kecil)

Musa memilih orang-orang cakap dari bangsa Israel dan mengangkat mereka menjadi kepala atas kelompok-kelompok besar dan kecil, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Mereka ini ditunjuk untuk membantu Musa dalam menyelesaikan masalah rakyat Israel. Perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. Banyak pelayanan atau gereja saat ini kurang berkembang karena hanya dijalankan oleh satu atau dua orang pemimpin saja, sehingga banyak orang-orangnya yang punya potensi tidak dikembangkan. Akibatnya pemimpin menjadi stress kecapaian dan pengikut pun menjadi bosan sebab hanya menjadi penonton.

Pasal 7 : Musa dan Yosua (persiapan dan waktu Tuhan)

Untuk mempersiapkan pemimpin yang tepat memang memerlukan kesabaran baik dalam proses pelatihannya sendiri maupun menantikan waktu Tuhan yang tepat. Sebagian orang kurang sabar dan cenderung mau menempuh proses yang cepat sehingga suka menempuh jalan pintas atau “short cut”, padahal belum tentu sesuai dengan waktunya Tuhan dan belum tentu cara cepat itu adalah yang terbaik. Pelajarilah bagaimana Tuhan menyiapkan Yosua lewat kepemimpinan Musa, waktunya bukan beberapa bulan, namun 40 tahun.

Pasal 8 : Elia dan Elisa (loyalitas dan penundukan diri)

Elia belajar tunduk pada otoritas kepemimpannnya. Ia setia mengikuti pemimpinnya sampai akhirnya ia menerima urapan ganda yang luar biasa. Lewat mentoring dan pemuridan kita akan menghasilkan calon-calon pemimpin yang setia. Elisa mengikuti Elia sampai akhir perjalanannya. Ingatlah ini, jika seseorang membiasakan diri untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas, maka untuk proyek-proyek lain ditempat yang lain ia akan menyelesaikan juga dengan tuntas. Demikian juga berlaku sebaliknya, jika seseorang membiasakan diri untuk tidak menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas (serba tanggung, tidak selesai, terbengkalai) maka untuk proyek-proyek lain ditempat yang lain biasanya iapun tidak akan menyelesaikan juga dengan tuntas.

Pasal 9 : Tuhan Yesus dan murid-murid Nya (keteladanan)

Jika kita ingin mentoring dan pemuridan kita efektif, maka mari kita belajar dari Guru Agung kita dalam hal “menjadi teladan bagi murid-muridnya. Kita amati bahwa dalam mentoring dan pemuridan yang dilakukan oleh Yesus, ia selalu memberikan contoh dan teladan yang baik. Dia menganut prinsip : “Walk the talk” artinya menjalani apa yang sudah dikatakan, sesuai tindakannya dengan perkataannya. Jika Anda ingin membawa dampak besar bagi kehidupan seseorang, jadilah teladan bagi mereka!

Pasal 10 :  Paulus dan Timotius (memberi kepercayaan)

Murid atau mentee yang setia, punya potensi dan talenta namun tidak dilibatkan dalam pekerjaan (pelayanan) yang lebih besar akan mempunyai kecenderungan untuk menjadi tidak bergairah lagi atau lebih parah lagi akan mulai mengkritik dan bisa pindah keluar untuk mencari tantangan atau kesempatan yang lebih untuk kemajuannya.
Tindakan yang bijaksana dalam pemberdayaan atau memberikan kepercayaan dalam mentoring adalah : bimbingan dan pelatihan harus diberikan kepada mereka yang baru dan setelah diamati perkembangannya dan pada waktu yang tepat percayakanlah mereka untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar sesuai dengan talenta dan kemampuannya.

Pasal 11 :  Lima syarat pembuat murid Kristus

Bukan pendidikan, pengalaman, usia atau posisi yang menjamin seseorang untuk dapat membuat (melahirkan) murid-murid Kristus, namun ada 5 faktor yang menentukan yaitu :
1.      Memiliki hati Bapa
2.      Memiliki panggilan dan motivasi yang kuat
3.      Berjiwa melayani dan bukan memerintah   
4.      Seorang yang tekun dan tidak mudah menyerah
5.      Mau menjadi teladan, mau belajar dan bertumbuh terus-menerus

Pasal 12 : Semua  orang  memerlukan  bimbingan

Untuk mencapai potensi maksimum, semua orang memerlukan nasihat dan bimbingan. Sesungguhnya proses belajar bisa kita dapatkan lewat jalur resmi namun juga jalur yang tidak formil seperti lewat persahabatan, lewat pemimpin rohani, lewat orang tua, lewat orang-orang yang ahli (expert) dalam bidang tertentu.
Alangkah baiknya dan luar biasanya jika kita semua (yang ingin maju dan bertumbuh dan sukses tentunya) memanfaatkan kedua jalur resmi dan jalur yang tidak resmi itu sehingga kita menerima manfaat yang sebesar-besarnya dalam hidup ini dan kita pun bertumbuh lebih cepat untuk mencapai potensi maksimum kita.

Pasal 13 : Tidak bisa dalam satu malam

Ingatlah bahwa untuk membuat murid Kristus tidak dapat hanya satu malam atau satu minggu saja. Milikilah perspektif yang benar tentang nilai kekekalan seorang murid Kristus sehingga ketika Anda sedang terlibat dalam proses menyiapkannya--- maka Anda tidak akan merasa bosan, letih atau berat dalam melakukan pekerjaan tersebut sekalipun bertahun-tahun bahkan seumur hidup prosesnya.




Pasal 14 : Pentingnya Follow up

Dalam melakukan mentoring dan pemuridan salah satu hal yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan adalah kegiatan untuk menindak lanjuti atau memfollow up, mengapa? Oleh karena  dalam program ini setelah kita membuat sasaran atau rencana, maka kita harus memantau atau memonitor proses perkembangannya dan memastikan bahwa sasaran tersebut tidak terhenti ditengah jalan, namun akan terlaksana dan untuk kemudian akan dilakukan evaluasi.

Pasal 15 : Tidak harus bertatap muka

Dalam melakukan mentoring, salah satu kendala yang sering dihadapi sebagian orang adalah keterbatasan waktu oleh karena mereka sangat sibuk dengan jadwal yang sangat padat setiap hari bahkan sepanjang minggu. Dalam Pasal ini dibahas bahwa mentoring atau pemuridan tidak hanya dilakukan seperti yang biasa yaitu “harus berjumpa langsung” namun bisa juga dilakukan dengan tempat yang jauh terpisah satu sama lain dan saling tidak bertatap muka. Cara ini sangat efektif untuk orang-orang yang belum (bukan) sepenuh waktu dalam melayani Tuhan misal : pengusaha, kaum professional yang sangat sibuk dan waktunya terbatas.

Pasal 16 : Pemimpin melahirkan pemimpin

Gembala melahirkan gembala, Majelis Gereja melahirkan Mejelis Gereja, Worship Leader melahirkan Worship Leader, Pemain Musik melahirkan Pemain Musik, Guru sekolah Minggu melahirkan Guru Sekolah Minggu, Direktur melahirkan Direktur, Rasul melahirkan Rasul, Nabi melahirkan Nabi, ahli Las melahirkan ahli Las, ahli Masak melahirkan ahli Masak demikian seterusnya --- itulah namanya ‘multiplikasi’ atau pelipat gandaan.   Dengan kata lain : “Pemimpin akan melahirkan Pemimpin” dan proses itu akan sangat efektif lewat proses Mentoring dan Pemuridan.

Pasal 17 : “Going strong !”

Dalam Bab ini penulis mengajak pembaca untuk memikirkan bagaimana caranya membangun pribadi atau jemaat yang Going Strong artinya yang semakin dewasa, bukan menjadi bayi rohani terus. Ada jemaat yang sejak bergabung jadi menjadi anggota gereja yang sudah puluhan tahun tetapi masih tetap bayi rohani terus. Apa kuncinya agar tetap kuat dan tidak tergoncangkan? Kita kuat jika berakar dan bertumbuh dalam Firman Tuhan. Kita kuat jika kita hidup dalam doa dan pujian dan penyembahan. Belajar dari pemimpin-pemimpin kegerakan rohani (bapa rohani) pendahulu kita, mereka selalu berpegang kepada janji-janji Allah. Oleh karena itu setiap pemimpin yang ingin membangun generasi berikutnya yang tidak tergoncangkan, haruslah mendapatkan mandat yang mantap dari Allah dan berpegang akan janji-janji Allah. Itu bukanlah sekedar semangat emosi atau trend sesaat. Itu berbicara tentang DNA

Pasal 18 :  “Unshakeable Generation”

Dipasal ini ada dua kisah nyata yaitu tentang Jonathan Edwards dan Max Jukes. Jonathan Edwards membangun pondasi yang benar dan kuat (takut akan Tuhan dan taat kepada Firman Nya) sehingga ia menghasilkan “Unshakeable Generations” atau generasi-generasi yang tidak tergoncangkan. Sebuah warisan dari kehidupan orang tua yang “dipindahkan” kepada anak- anaknya. Sementara itu Max Jukes membangun pondasi yang rapuh dan tidak tahan badai kehidupan (hidup menjauhi Tuhan), sehingga ia menghasilkan “Shakeable Generation” atau generasi yang tergoncangkan bahkan menjadi generasi yang gagal (hancur).

Pasal 19 : Jangan patah semangat karena Judas

Setiap orang pernah dihianati dalam hidup maupun dalam pelayanannya. Ada 3 kunci agar
kita bisa tetap maju walaupun dihianati oleh orang-orang yang pernah kita muridkan :
a. Kita harus selalu berfikir positif dalam melakukan mentoring atau pemuridan.
b.Tuhan selalu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk berubah dan bertobat.
c. Jaga hati kita jangan sampai ada akar kepahitan !

Pasal 20 :  Bagaimana mengukur kemajuannya?

Setiap pertumbuhan baik untuk pertumbuhan pribadi maupun untuk pertumbuhan gereja perlu diukur kemajuannya. Bagaimana caranya? Ikuti langkah-langkah praktis dalam pasal ini.

Pasal 21 : Menjadi mentor buat anak-anak

Mentoring dan Pemuridan tidak hanya dapat diterapkan dalam bisnis usaha atau pelayanan namun juga penting dilakukan dalam keluarga, khususnya untuk anak-anak kita. Para orang tua, mari kita taburkan benih-benih kepada putra-putri kita dalam bentuk : kasih sayang, perhatian, nasihat, dorongan semangat, sharing atau pengajaran Firman Tuhan, disiplin, doa, pengetahuan, bekal keperluan hidup, kata-kata berkat dll. Apapun yang baik yang berguna untuk kehidupannya taburlah dengan tidak henti-hentinya dan jangan bosan-bosan. Sebab suatu saat kelak apa yang kita tabur dalam diri mereka saat ini akan kita tuai juga lewat kehidupan mereka. Contoh yang sangat baik dilakukan oleh Dick terhadap putranya Rick yang cacat. Mereka adalah tim Hoyt yang tangguh !


Pasal 22 : Mempercepat at Church Planting dan Misi

Mengapa Mentoring secara langsung ataupun tidak langsung dapat mempercepat proses penanaman gereja dan penginjilan (misi) ? :  
a.Pemimpin yang dewasa rohani akan menjadi teladan
b.Seorang  murid Kristus adalah seorang yang berjiwa misi.
c.Program mentoring sangat dibutuhkan untuk proses pendewasaan
d.Seorang murid Kristus memiliki panggilan untuk memuridkan orang lain juga.
e.Seorang murid Kristus adalah seorang yang terbiasa untuk melakukan follow up atau tindak lanjut.


Pasal 23 : Kualitas atau kuantitas

Dalam mengembangkan pelayanan, jangan terganggu dengan angka-angka, lebih baik 1 orang yang sungguh-sungguh (100% menyerahkan hati kepada Tuhan) daripada 10 orang percaya yang setengah-setengah untuk Tuhan. Untuk jangka pendek kelihatannya lebih menarik memiliki anggota 10. Namun untuk jangka panjang akan terlihat betapa bernilainya yang satu orang tersebut dibandingkan dengan 10 orang namun kurang sungguh-sungguh.

Pasal 24 : Peranan Doa dalam pertumbuhan


Semua orang perlu dukungan doa dalam hidupnya agar ia terus bertumbuh dalam iman dan karakter, apakah ia jemaat biasa maupun pemimpin rohani. Bagaimana strateginya agar hal itu bisa terlaksana? Dengan kata lain tidak seorang pun yang akan terlewatkan atau kecolongan jika di lindungi (cover) oleh doa-doa.

Pasal 25 : Berapa kali kita perlu menasehati mereka?

Mentoring dan proses pemuridan diwarnai dengan banyak nasihat-nasihat secara pribadi lepas pribadi, nasihat yang berulang-ulang sesuai kebutuhan dan  nasihat dalam bentuk jamak juga artinya nasihat secara kelompok bersama-sama. Sampai berapa kalikah kita perlu menasihati mereka.

Pasal 26 :  Jika tidak Mati Tidak Berbuah Banyak

Dalam pasal ini dikupas secara lengkap tentang kesaksian dua orang pribadi yang bersedia “mati” artinya mengalami proses pembentukan (mati terhadap ego dan cita-cia pribadi) sehingga akhirnya menghasilkan buah-buah yang banyak sekali yaitu ribuan murid-murid Kristus dan 3000 an gereja yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Mereka adalah : Ir Badu Situmorang (buah sulung pelayanan Navigator di Indonesia) dan Pastor Jimmy Oentoro (pendiri IFGF GISI).

Pasal 27 :  Visi menjangkau yang terhilang

Murid-murid Kristus yang terpilih dan punya kerinduan untuk terus bertumbuh akan ikut Pelatihan (training) dan akan menjadi Pekerja yang kemudian akan dikembangkan terus menjadi Pemimpin. Pekerja yang sudah terlatih dan Pemimpin akan diutus kedunia untuk memenangkan jiwa-jiwa baru. Demikian selanjutnya proses tersebut diulang kembali.

Pasal 28 :  Memilih Timotius Anda

Dalam mentoring dan pemuridan, oleh karena waktu, tenaga, perhatian dan sumber daya yang terbatas, maka mentor perlu melakukan seleksi untuk memilih anggota yang akan difokuskan. Sama seperti Tuhan Yesus sendiri, pada awalnya Ia punya 70 murid yang lain, namun mereka diseleksi lewat proses pengajaran Nya sehingga pada satu titik, secara alami sebagian besar dari mereka akhirnya mengundurkan diri. Namun ke-12 murid Yesus yang setia tetap bertahan mengikuti guru mereka. Paulus juga punya banyak murid, namun hanya Timotius yang berulang-ulang dia sebut sebagai anak rohaninya dan yang akhirnya menjadi hemba Tuhan yang teruji dan setia.

Pasal 29 :  Mentoring dan Pemuridan – bukan sekedar pilihan

Mentoring dan pemuridan bukanlah sekedar pilihan yang boleh diikuti atau boleh tidak, namun ini harus dilakukan demi kelangsungan generasi yad yang berkualitas dan agar kepemimpinan kita semakin baik dan sempurna. Dengan demikian kitapun akan semakin baik dalam memimpin orang lain untuk bertumbuh dalam mencapai potensi maksimumnya. “Mentoring dan pemuridan” tidak hanya sekedar untuk dibaca, diketahui atau dimengerti, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan Anda pun bisa melakukannya!

Kesimpulan :
1. Jika Anda ingin mengetahui lebih dalam tentang buku ini berikut pengulasan secara detail tentang ke-29 Pasal diatas, maka Anda bisa mendapatkan buku ini di toko buku Kalam Hidup dan toko buku Gramedia yang ada dikota-kota Anda. Harga per buku adalah Rp 65,000.


2. Jika Anda sudah membaca buku tersebut (544 halaman) dan ingin memberikan komentar atau saran ke pada penulis, dapat menghubungi : Herdy Hutabarat di HP # 0811-750-546 atau email ke herdyhb@yahoo.com atau Facebook : Herdy Hutabarat.
READ MORE - Synopsis Buku Mentoring & Pemuridan
 
;