Selasa, 02 Agustus 2011

BERKAT DALAM PENUNDUKAN DIRI

“BERKAT DALAM PENUNDUKAN DIRI”
Oleh : Pdt. Ir Herdy N. Hutabarat MA

Banyak orang yang begitu bersemangat jika membicarakan topik tentang berkat-berkat Tuhan. Mereka dengan rajin berdoa dengan harapan agar lebih banyak lagi menerima berkat-berkat, dan mereka percaya bahwa Allah adalah sumber berkat yang tidak habis-habis nya. Namun kadang-kadang orang lupa bahwa berkat Tuhan bisa terhalang jika kita tidak mengerti dan tidak mentaati Firman Nya. Nah, dalam artikel ini kita pelajari bahwa melalui penundukan diri kepada otoritas diatas kita (suami, orang tua, pimpinan di kantor tempat kita bekerja, pemerintah bangsa kita dan gembala di gereja lokal kita beribadah) kita akan menerima berkat-berkat dari Tuhan. Sebaliknya bisa terjadi jika kita tidak mau tunduk kepada otoritas kepemimpinan yang dari Tuhan maka berkat itu akan terhambat, bahkan bisa jadi masalah demi masalah yang datang menyerang kita.

Dalam kepemimpinan Musa, suatu ketika ia dikritik oleh Harun dan Miryam saudara nya oleh karena mengambil seorang perempuan Kush menjadi isterinya, dan menurut mereka itu adalah kesalahan besar dan tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Miryam dan Harun mengata-ngatai Musa, namun mereka tidak menyadari bahwa Tuhan mendengar kata-kata umpatan itu dan ternyata Tuhan membela Musa hamba Nya yang telah Ia pilih.

Bilangan 12 : 7 “Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.8. Berhadap2an Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dgn teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tdk takut mengatai hamba-Ku Musa?”  9. Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. 10. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, Putih seperti salju; ketika Harun berpaling pada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!”

Tuhan mengajar Harun dan Miryam agar menghormati pemimpin yang sudah Ia tetapkan, walaupun pemimpin itu punya kekurangan. Urusan untuk menegur atau meluruskan pemimpin adalah bagian Tuhan. Seringkali orang percaya (Kristen) mudah berkata : “Aku tunduk pada Tuhan” namun mereka sebagai isteri sulit tunduk kepada suami (kepala rumah tangga), sebagai jemaat sulit tunduk kepada gembala, sebagai anak-anak suka berontak kepada orang tua, dan sebagai karyawan masih suka demo kepada pimpinan perusahaan.

Adalah aneh kedengarannya jika kita lebih mudah tunduk kepada Allah (yang tidak kita lihat) namun sulit untuk tunduk kepada pemimpin kita yang jelas kelihatan didepan mata kita.
Mari kita lihat, ada 4 berkat yang kita terima jika kita belajar tunduk kepada otoritas pemimpin yang ditetapkan Tuhan. Itu bukan kebetulan, semuanya ada dalam rencana Nya buat Anda dan saya sekalipun pemimpin kita itu punya kekurangan dan tidak seperti yang kita harapkan.

1.      Dengan tunduk pada otoritas pemimpin, kita berjalan sesuai Firman Nya. Sadarkah kita jika kita berjalan sesuai dengan Firman Nya maka itu menyenangkan hati Allah? Jika Allah disenangkan maka Ia pun akan menjawab doa-doa kita.

2.      Dengan tunduk pada otoritas pemimpin, karakter kita dibentuk
Amsal 27 : 17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Banyak orang       mengundurkan diri dari pelayanan karena terbentur dengan gembalanya, isteri kecewa dan merasa tidak tahan lagi dan minta cerai dari suaminya yang kasar, karyawan pindah kerja karena kesal melihat atasannya yang tidak menaikkan gajinya, anak-anak minggat dari rumah karena tidak mau tunduk kepada ayahnya yang suka mabuk dsb. Tahukah Anda bahwa mereka-mereka itu mencoba keluar dari masalah dengan mencoba melarikan diri dari masalah. Namun sesungguhnya mereka itu masih berputar-putar dengan masalah sebab karakter mereka belum berubah (tidak mau diproses dan dibentuk oleh Tuhan).
Saya belajar satu prinsip bahwa jika kita mudah diatur dan dipimpin makapun kitapun akan mudah mengatur serta memimpin orang lain, dan itu berlaku juga sebaliknya. Jika sebagai ibu, Anda susah sekali mengatur anak-anak, coba periksa barangkali Anda sebagai isteri masih susah tunduk pada suami. Jika Anda sebagai pemimpin merasa anggota Anda sulit sekali dipimpin, coba koreksi diri barangkali Anda pun sulit dipimpin atasan Anda.

1 Petrus 2 : 18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
1 Petrus 3 : 1 “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya”

Sebaliknya mereka yang tetap bertahan (walaupun rasanya sakit), tetap mengasihi dan mendoakan pimpinan (walaupun dengan air mata) dan tetap melakukan bagian mereka dengan sebaik-baiknya (walaupun ada perjuangan dalam batin antara mau berontak atau mau taat pada keinginan Tuhan), maka mereka sedang diproses dan dibentuk karakternya seperti emas yaitu : sabar, kasih, damai, murah hati, suka mengampuni, setia, dapat menguasai diri dan lain-lain. Bukankah itu berkat? Anda akan bertumbuh menjadi pribadi yang disukai oleh orang lain karena karakter Anda menyenangkan. Anda akan banyak teman, di kantor Anda akan  disenangi oleh atasan dan partner kerja, digereja Anda akan mudah bekerja sama dalam pelayanan; dalam dunia bisnis Anda akan lebih lancar, jualan Anda akan lebih laku sebab Anda suka senyum, wajah Anda ceria dari pagi sampai petang, dan pelanggan Anda akan datang kembali, bukankah itu mendatangkan akan berkat?

3.      Dengan tunduk pada otoritas pemimpin, kita terhindar dari perpecahan
Mengapa banyak keluarga pecah (suami isteri bercerai), mengapa banyak gereja mengalami perpecahan dan berakhir dengan kekecewaan serta akar pahit?  Salah satu jawabannya adalah karena tidak mau mengalah dan tidak mau tunduk kepada pemimpin. Jika isteri sabar dan tunduk dan berdoa terus kepada Tuhan, pasti suatu saat Tuhan akan menjamah hati suaminya yang keras itu. Jika jemaat atau aktivis gereja menghormati keputusan gembala (walaupun terasa tidak bijaksana) diserta doa yang sungguh-sungguh pasti Tuhan akan meluruskan sang pemimpin. Daud tidak mau menjamah Saul yang ingin membunuhnya, walaupun dua kali ia mendapat kesempatan untuk itu (1 Samuel 26 : 7-12 dan 1 Samuel 24 : 4-8). Pada saat itu Saul adalah seorang pemimpin atau Raja yang sudah undur dari roh Tuhan, namun Daud tetap menghormati nya. Dan apa yang terjadi? Karena Saul tidak mau bertobat, Tuhan yang berurusan. Ia menghajar Saul, ia mati bunuh diri, dan anaknya Yonathan juga mati dalam peperangan pada hari yang sama. Jika semua anak-anak Tuhan menyadari prinsip ini maka tidak akan ada lagi perceraian dan tidak akan ada lagi perpecahan didalam gereja. Bukankah rumah tanga yang utuh (tidak bercerai) dan gereja yang tidak pecah adalah suatu berkat yang besar?

4.      Dengan tunduk pada otoritas pemimpin, kita hidup dalam pengayoman Tuhan
Ibrani 13 : 7 “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira”
Sadarkah Anda bahwa serigala (iblis) selalu mengintai dan mencari celah untuk menyerang kita domba-domba (jemaat)? Seekor domba yang suka menyendiri, menjauh dari kumpulan kawanan domba maka ia adalah mangsa iblis yang sangat empuk.
Dengan hidup dalam penundukan pada otoritas pemimpin, itu berarti kita hidup dalam “payung rohani’ atau “payung ilahi” sehingga terhindar dari hujan dan panas yang tidak baik untuk kita, terhindar dari ancaman si jahat yang berkeliling dan mengintai (1 Petrus 5 : 8).
Tunduk pada pemimpin berarti kita tunduk pada Allah, maka otoritas untuk mengusir iblis ada pada kita. Ingatlah bahwa iblis itu pencuri, pembunuh dan pembinasa, jangan biarkan ia masuk dalam kehidupan kita, keluarga kita, bisnis kita. Bukankah dengan perginya iblis dari kehidupan kita itu adalah suatu berkat yang besar?

Yakobus 4 : 7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu


LANGKAH-LANGKAH TINDAKAN :

1. Mungkin Anda bertanya : “Mengapa berkat-berkat dalam hidup saya koq seperti terhalang, padahal saya rajin berdoa?” Coba periksa secara jujur, apakah Anda sudah hidup dalam penundukan diri kepada otoritas kepemimpinan? (isteri tunduk kepada suami, jemaat tunduk kepada jemaat, karayawan tunduk kepada atasan dsb).

2. Jika Anda menyadari bahwa Anda masih belum hidup benar seperti yang Tuhan inginkan dalam prinsip pendudukan diri, ambilah tindakan segera. Adakanlah rekonsiliasi (pemulihan) dan jumpailah mereka dan mintalah pemimpin untuk memberkati Anda.

3. Jika pemimpin Anda belum benar atau menunjukan sikap tidak ramah, Anda boleh memberikan saran dan selalu mendoakan mereka agar Tuhan yang mengubahnya. Namun jika mereka belum berubah itu bukan urusan Anda. Anda sudah benar dihadapan Tuhan. Mulai hari ini jangan lagi mengata-ngatai (seperti Miryam dan Harun), tetapi belajarlah tunduk dan menghormati mereka.

4. Jika Anda ingin bertumbuh dalam karakter (seperti emas), jangan cepat-cepat menghindar atau lari dari persoalan yaitu menjauhi orang yang sulit bekerja sama dengan Anda. Justru lewat berinterkasi dengan merekalah (walaupun terasa sakit) Anda akan dibentuk dalam karakter. Sebaliknya jika Anda selalu mencari zona aman (tidak mau berinterkasi) maka karakter Anda begitu-begitu saja. Ingat proses untuk mendapatkan ukiran patung kayu mahal yang halus dan indah itu pada awalnya dihasilkan dari proses yang keras dan kasar. Sebatang kayu kasar murahan yang dipotong dengan kampak atau gergaji, kemudian di belah-belah dengan parang, lantas di pahat kasar dan pahat halus, kemudian di ampelas kasar. Setelah itu di ampelas halus baru kemudian di dempol dan di cat. Demikian juga “karakter emas” Anda terbentuk dari proses kehidupan yang keras dan tidak enak secara daging, dan salah satunya adalah melalui proses “penundukan kepada otoritas pemimpin”.


Pdt Ir. Herdy N. Hutabarat MA

2 comments:

Samuel Darmanto mengatakan...

Mantap & menjadi berkat! Thanks & GBU!

Rasamala Tanjung mengatakan...

Setju

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan / komentar
Pilih name/url, isi dengan nama anda. url boleh juga di kosongkan.

 
;